Feeds:
Posts
Comments

My Home Recording Studio

“Musical Autodidact Series” Part 2

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya soal Ngerintis Studio Rekaman Pribadi atau “Musical Autodidact Series” Part 1.  Alat atau instrument apa aja yang sekiranya diperlukan untuk bikin studio rekaman pribadi udah pernah Gwe bahas di sini.

Tulisan kali ini adalah kelanjutannya, yaitu lebih ke sejauh mana Gwe ngegunain alat yang pada tulisan sebelumnya baru pada tahap persiapan/belum lengkap; dan masalah atau keadaan yang nggak terduga setelah Gwe terjun memanfaatkan sistem Studio Rekaman Pribadi ini.

Jadi, pada perkembangannya Gwe punya dua paket alat yang bisa digunakan sebagai studio rekaman pribadi. Paket 1 ada di rumah ortu, dan Paket 2 ada di tempat Gwe sehari-hari tinggal. Komponen Paket 1 (lebih lengkap/variatif) diantaranya adalah: Komputer Dekstop, Audio Interface, Keyboard Arranger, Mic Analog, Gitar Listrik, Speaker Aktif dan dilengkapi dengan software Digital Audio Workstation (DAW): Pro Tools dan FL Studio. Sedangkan komponen Paket 2 terdiri dari: Laptop, Mic USB, Keyboard Controller, Speaker Aktif dan juga dilengkapi dengan software DAW: FL Studio dan Pro Tools.

Kedua sistem ini kalau mau dimanfaatkan sebagai studio rekaman pribadi atau rumahan, sebenernya udah cukup. Namun ada satu masalah utama, yaitu soal input vocal. Memang Mic sudah ada untuk kedua sistem ini, namun input suara/sound sejatinya membutuhkan kejernihan/kemurnian suara. Padahal kalau kita hidup di lingkungan umum, banyak sekali suara-suara yang muncul yang sebenarnya tidak dibutuhkan untuk kita masukkan dalam rekaman. Entah itu suara motor lewat, suara aktivitas orang nyuci baju, suara anak-anak bermain, dll. Nah, karena itu untuk dapat membuat suatu studio rekaman yang bagus perlu adanya ruangan khusus yang tidak terganggu suara-suara dari luar. Kalau perlu ruangan itu harus kedap suara. Hal ini akan menjadi masalah kalau ruangan yang kita miliki terbatas. Memang selama ini, kalau Gwe ngerekam, masih cukup aman. Input dari Mic cukup bisa mem-filter atau membatasi suara yang tidak perlu untuk direkam. Namun kalau mau mendapatkan hasil yang perfect, pemilihan ruangan yang kedap suara tentu perlu dilakukan.

Selanjutnya untuk pemilihan software recording. Untuk keperluan recording music/lagu sebenarnya lebih enak/mudah pake DAW semacam Pro Tools (varian lainnya: Cubase, Nuendo, Pre Sonus), namun harga belinya cukup tinggi. Bahkan Pro Tools menggunakan sistem pengamanan, dimana program baru dapat diaktifkan kalau terkoneksi dengan instrument/hardware buatan M-Audio (kalau untuk aplikasi lain Gwe belum nyoba). Jadi, untuk sementara orang bisa coba pake program FL Studio, karena versi demo-nya dapat di-download secara gratis dan programnya bisa diaktifkan dengan fungsi yang terbatas (versi Full-nya dengan berbagai paket tentu saja juga harus berbayar). Jadi lebih banyak orang yang bisa menjajal program ini.

Selain kedua hal ini, hal berikutnya adalah soal skill. Pertama skill dalam menggunakan instrument musik (kalau paham penggunaan keyboard/piano akan lebih baik, karena program DAW banyak berinteraksi dengan keyboard/piano), dan yang kedua adalah skill penggunaan aplikasi studio rekaman pribadi. Kedua skill ini harus dilatih dan dikuasai agar dapat menghasilkan rekaman musik/lagu yang enak untuk dinikmati.

Pada prakteknya, karena kesibukkan kerja dan hal laen, Gwe emang belum banyak berkarya dengan sistem Studio Rekaman Pribadi. Namun di tempat Gwe belajar musik IT, yaitu di Sekolah Musik Purnomo, Semarang dengan pengajarnya, mas Alex, sistem ini sudah dimanfaatkan. Ada sejumlah penggemar musik yang meminta bantuan mas Alex untuk merekam lagu ciptaannya. Baik dia bermain musik sendiri, ataupun dibantu aransemennya oleh mas Alex. Dan hasilnya? Menurut Gwe cukup layak bersaing dengan hasil rekaman di studio professional yang butuh biaya lebih tinggi. Gwe juga udah bikin rekaman 1 (satu) lagu di sana yang Gwe beri judul: Havnt’ Luv U, Nyet! Selain untuk rekaman lagu, bisa juga sistem ini dimanfaatkan untuk rekaman drama atau hal lain. Tapi sayang, sementara belum bisa Gwe share contoh hasilnya. Nanti suatu ketika ya kita bisa berbagi…

Sementara, nikmatin dulu aja album Lagu Digital yozar.remixer yang ke-2: 2nd BasyiK. Silakan download di sini:

http://www.4shared.com/file/NhZQkI4y/yozarremixer_-_2nd_BAsyik.html

http://www.mediafire.com/?i26i0o26lzds361

Ini adalah tulisan sambungan dari Fase 2..

Fase 3: Saat Kerja di Semarang Sampai Sekarang

Setelah SK (Surat Keputusan) Alih Tugas Gwe keluar pada pertengahan Februari 2011, berarti Gwe udah bisa pindah kerja ke Semarang. Namun karena masih dibutuhkan di Jakarta maka secara resminya Gwe baru aktif ada di Semarang pada Mei 2011.

Langkah pertama begitu Gwe alih tugas adalah nyari tempat les keyboard yang baru. Karena udah kadung belajar di franchise Yamaha dan biar nggak ngulang dari awal lagi, maka Gwe nyari sekolah mana di Semarang yang make kurikulum yang sama, dan akhirnya Gwe nemu Sekolah Musik Stanwood, Semarang. Di Stanwood Gwe diajar ama miss Sheila. Miss Sheila ini sebenernya seumuran ama Gwe, ya lebih senior dia dikit beberapa bulan, tapi secara skill jauh di atas Gwe. Karena kurikulum Yamaha baru, Gwe seolah harus mulai belajar lagi dari awal. Sebelumnya sih sama mas Doyok udah masuk Buku 1, dan dengan miss Sheila gwe tinggal nerusin aja. Ujian Buku 1 udah Gwe jalanin September 2011 dengan hasil yang cukup baik. Sekarang ini Gwe udah mulai masuk Buku 2. Untuk kelas keyboard nantinya bakal ada 3 Buku, dengan Buku 3 sebagai buku terakhir. Namun belajar musik nggak akan berhenti sampai di sini, karena kelas lanjutannya adalah belajar Piano. Kabarnya instrument yang akan dipake bukan lagi Yamaha PSR, tapi piano elektrik Classinova. Dengan miss Sheila, Gwe juga mendapatkan materi tambahan untuk memperkaya pengetahuan soal musik dan keyboard, baik dalam wujud teori dan juga praktek bermain lagu.

Untuk mempercepat pemahaman di bidang musik, khususnya untuk mencapai target Gwe menjadi composer/produser lagu, belajar skill keyboard aja nggak cukup. Ilmu berikutnya yang Gwe pelajari adalah soal recording dan mixing. Secara kebetulan, menjelang kepindahan Gwe di Semarang, akhir 2010 pas Gwe lagi survey tempat les yang kemungkinan ada franchise Yamaha-nya, Gwe dateng ke Sekolah Musik Purnomo. Ternyata di sana buka program Kelas Musik IT atau Kelas Musik Komputer. Tadinya Gwe pikir ini materi ajarnya bakal mirip ama FL Studio, Gwe pun tertarik. Setelah ketemu sama yang ngajar, Gwe jadi tahu ternyata program yang dipakai beda. Untuk kelas ini ternyata lebih serius menuju semacam home recording, bukan sequencer program ala FLS. Jadi orang diarahkan untuk bisa membuat studio rekaman sendiri di rumah dengan alat yang tidak terlalu mahal, namun kualitasnya tetep oke. Sistem program ini: Maen musik beneran, bukan otomatisasi atau sequencing ala FLS. Gwe sebelumnya udah pernah kenal konsep ini pas dulu di Jakarta sewaktu datang ke pameran-pameran komputer. Gwe bahkan udah beli keyboard controller dan audio interface (masinng-masing beda merek), namun belum memanfaatkannya secara maksimal. Ternyata kelas Musik IT inilah yang memanfaatkan peralatan ini. Maka Gwe putuskan untuk ikut kelas ini sekalian, yang programnya 12 kali pertemuan.

Yang ngajar kelas musik IT ini namanya mas Alex. Program yang dipake untuk pelajaran adalah Pro Tools yang terintegrasi dengan instrument produksi M-Audio. Di sini Gwe belajar caranya recording dan mixing, namun Gwe belom bisa maksimal memanfaatkannya karena terkendala skill maen keyboard yang masih cetek. Seperti yang udah Gwe tulis di atas, program Pro Tools lebih diarahkan untuk recording dan mixing, jadi skill permainan instrument secara live sangat diperlukan, nggak bisa sekedar otomatisasi sequence ala FL Studio. Walaupun sebenarnya Pro Tools juga mendukung MIDI dan dapat “membatik” nada MIDI, namun user lebih diarahkan untuk live playing instrument. Gwe udah selesai ikut kelas ini, walaupun belum bisa dibilang jago. Di akhir-akhir pertemuan Gwe malah minta tolong mas Alex untuk aransemen lagu ciptaan Gwe yang berjudul “Havn’t Luv U, Nyet!” Jadi Gwe yang nyiptain lagu & nadanya (bareng Welly tahun 2010 lalu), mas Alex yang bikin musiknya. Hasilnya lumayan, musiknya oke, tapi vocal Gwe harus dilatih lagi :p

Selaen ngambil kelas keyboard, serta recording & mixing, Gwe juga memutuskan untuk ikut les vocal lagi atas saran mas Alex. Guru vocal yang disarankan mas Alex di Sekolah Musik Purnomo adalah pak Yono. Kelas vocal di sini beda dengan di Musicasa. Dengan pak Yono, sistem pengajarannya nggak dari dasar teknik vokal, tapi langsung nyanyiin lagu. Jadi sistem belajarnya lebih aplikatif. Lagu yang dinyanyikan boleh milih sendiri atau diarahin. Karena Gwe nggak punya banyak referensi lagu, Gwe ngikut pak Yono untuk milihin lagu untuk Gwe latih. Nggak pernah nyangka di sini Gwe bakal nyanyiin lagu-lagunya Kerispatih, Afgan, Judika, atau Bon Jovi. Karena dulu Gwe lebih sering dengerin lagu Jepang atau lagu Barat, dan genrenya kalau enggak rock, ya remix atau pop elektronik. Gwe sih nyante, manut ngikut guru aja, asal vokal Gwe bisa lebih terasah dan tertata.

Fase Selanjutnya…

Gwe belum tahu untuk Fase selanjutnya, di tahun 2012 ini akan belajar hal baru apa? Untuk sementara Gwe pengin lebih memantapkan pemahaman (latihan dan praktek) di bidang-bidang yang udah Gwe sebut di Fase 3, yaitu: 1) Skill Keyboard 2) Vocal, dan 3) program musik Digital (baik Pro-Tools maupun FL Studio), sehingga suatu ketika Gwe cukup layak untuk debut.

Mungkin hal lain yang bisa Gwe lakuin adalah lebih memperkenalkan ke orang-orang tentang diri dan karya musik Gwe. Bisa lewat forum di internet, social media yang ada hubungannya ama musik (Reverb Nation, MySpace, Sound Cloud, dll), blog, mulai orientasi ke radio untuk promo lagu, orientasi ke café & mall untuk perform, bergaul dengan orang-orang di studio rekaman atau komunitas musik lainnya di dunia nyata, kenalan dengan orang-orang event organizer yang sering ngadain penampilan musik, kenalan ama bagian marketing dan promosi berbagai perusahaan, ikut album kompilasi, ikut festival, dan last but not least kenalan ama wartawan/reporter desk hiburan surat kabar, televisi, dan media online.

Kalau kalian ngerasa langkah-langkah yang Gwe ambil ini bermanfaat, silahkan dicontoh. Analogikan dengan bidang  yang kalian upayakan, nggak harus sama dengan Gwe, sesuaikan dengan kebutuhan ;)

Bonus:
Berikut adalah video live perform dari lagu: “Havn’t Luv U, Nyet!” yang Gwe bikin sama mas Alex dengan software Pro-Tools:


URL Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=xFPQdN4wPHs

Ini adalah tulisan sambungan dari Fase 1..

Fase 2: Saat Kerja di Jakarta

Pada masa istirahat itu, dari jaman kuliah sampe mulai kerja tetap di Jakarta, hobi kreatif yang Gwe jalanin adalah nulis fiksi. Sampai Gwe nulis blog ini, ada 3 buku yang udah terbit. Hanya saja Gwe ngerasa kurang berhasil di dunia penerbitan (but don’t worry, suatu ketika Gwe bakal come back buat bikin buku fiksi lagi). Karena itu mulai ada keinginan untuk kembali mempelajari musik, sampe-sampe waktu itu Gwe mulai beli berbagai macam peralatan musik, seperti: keyboard controller, audio interface (eksternal soundcard untuk computer), gitar listrik, amply, gitar efek dan vocal efek. Bahkan Gwe les DJ (Disc Jockey) segala, meskipun nggak sampai kelar, karna kurang ngerasa bakat di situ. Untung waktu itu ada cukup duit buat hobi gila Gwe ini.

Keinginan untuk bisa maen musik nggak akan terwujud kalau dibiarkan diam sebagai sebuah keinginan belaka. Maka mulai awal tahun 2010 Gwe mulai les Keyboard di Sekolah Musik Sincere, salah satu Franchise Yamaha di daerah Bungur Besar, Jakarta Pusat. Yang ngajar Gwe namanya mas Doyok. Karena dulu Gwe pernah belajar keyboard maka Gwe ceritain aja basic Gwe. Biarpun begitu, mas Doyok ngewajibin Gwe untuk belajar ulang dari dasar. Apalagi instrument keyboard yang dipake beda (khusunya mereknya, itu mempengaruhi pemrogramannya). Dulu Technics sekarang Yamaha. Jadi Gwe mulai belajar dari dasar lagi, tapi karena udah pernah belajar, jadi agak cepet nangkepnya. Untuk menunjang belajar keyboard itu, maka Gwe beli keyboard yang serupa dengan di tempat les, tapi versi yang sedikit lebih baru. Masih satu turunan tipe. Kalau di tempat les: Yamaha PSR-900 kalau punya Gwe: Yamaha PSR-910s.

Hal yang cukup mengejutkan setelah kenal dan ngobrol ama mas Doyok adalah gwe jadi tahu kalau dia juga make FL Studio. Mas Doyok pake FLS untuk mixing dan memperkaya warna lagu, untuk melengkapi program Digital Audio Workstation (DAW) lain seperti Nuendo atau Cubase. Selain ngajar, dia juga ada proyek-proyek pribadi garapin lagu/musik orang atau ilustrasi musik untuk drama atau hal lain. Jadi mas Doyok lebih suka jadi produser lagu atau musik director. Kalau untuk skill maen keyboard/piano dia udah oke lah, cuman dia kurang begitu suka tampil sebagai player. Mas Doyok lebih suka berada di belakang layar. Satu proyek terbesarnya saat Gwe masih les ama dia adalah, mas Doyok ikut ngegarap album-nya Ditho Brachmantio. Ditho ini adalah seorang remaja yang mengusung musik jazz. Jadi dia nggak milih genre Melayu yang popular saat itu untuk debut-nya. Kata mas Doyok, lagu Ditho sempet masuk dalam Top Ten Chart lagu di radio-radio Jakarta kayak Hard Rock FM, dll, dan beberapa kali manggung. Gwe sempet nonton performnya Ditho di f(X) Mall Jakarta. Waktu itu kebetulan Gwe mo produksi buku ke-3 Gwe, yaitu Boedjang Lapoek Mentjari Tjinta (BLMT), maka Gwe ajak mas Doyok untuk kerjasama ngejadiin lagu Ditho sebagai soundtrack BLMT. Mas Doyok setuju aja, tapi dia kudu minta ijin papanya Ditho dulu, dan Alhamdulillah boleh. Maka kalau kalian beli buku BLMT, ada iklan album lagunya Ditho di halaman terakhir. Sebagai timbal baliknya Gwe dapet free CD yang bisa Gwe jadiin kuis ke pembaca.

Selaen mulai belajar keyboard, Gwe mutusin untuk belajar vocal sekalian. Bukannya kemaruk sih, tapi orientasi Gwe mulai berubah. Gwe mungkin nggak akan jadi artis atau player yang tampil di panggung musik, tapi Gwe pengin jadi composer (pembuat lagu) atau produser musik aja. Karena itu, selaen kudu bisa maen musik, Gwe juga pengin ngasih tahu cara nyanyiin lagu yang Gwe ciptain ke orang yang pengin Gwe bikinin lagunya. Malu dong kalau pembuat lagunya, suaranya fales pas ngasih contoh. Nah, gwe belajar vocal itu di Musicasa, letaknya di kawasan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Yang ngajar Gwe dari Indonesia Timur, namanya Rosa, biasa dipanggil Ocha. Di situ Gwe diajarin teknik vokal. Pas latiannya nada, suara dipasin ama piano. Teknis banget deh. Kayaknya di sini belajar vokal lebih diarahkan untuk sebagai semacam penyanyi opera. Gwe pun nggak bertahan lama belajar di sini, selaen karena kurang pede dengan kualitas vocal Gwe yang kayaknya gitu-gitu doang, juga karena mulai sibuk urusan kantor.

Seiring belajar keyboard & vocal, Gwe mulai deket lagi ama FL Studio. Saat itu yang dirilis adalah versi 9. FL Studio 9 itu udah keren banget. Nggak sekedar buat bikin musik elektronik sederhana aja  yang bunyinya cuman tulat-tulit, tapi udah bisa kayak lagu beneran yang biasa didenger orang di radio atau TV, khususnya untuk jenis musik remix. Orang bisa bikin lagu yang mudah dengan Digital Audio Workstation satu ini. Nggak sekedar bikin musiknya, tapi juga ngerekam vocal, ngasih efek dan mixing musiknya. Top abis deh. Ngiler ama kemampuan luar biasa program ini, gwe pun mulai belajar secara otodidak. Gwe mulai beli buku-buku soal FL Studio, donlot tutorial di internet, baca informasi di forum internet, sampai beli CD plugin dan tutorial dari orang di internet. Bahkan Gwe udah mulai bikin naskah buku soal program ini, yang lebih ke pengenalan, bukan teknik ekspert. Iye, Gwe tahu kalau sampai sekarang pun belum pro banget di FL Studio, jadi Gwe berani bikin buku itu lebih kepada berbagi ilmu yang Gwe pelajari, dan Gwe akan terus perdalam program yang keren ini. Sampai sekarang naskah itu belum terbit. Anyone interested? ;)

Di tahun 2010 ini Gwe mulai proses untuk alih tugas dari Jakarta ke Semarang. Alasan utamanya adalah karena kesehatan bokap. Walaupun akhirnya pindah, Gwe masih pengin ngelanjutin belajar musik. Baik untuk dapet ilmu maupun manfaat ekonomi suatu ketika nanti.

Bersambung ke Fase 3…

Bonus:
Berikut adalah video clip dari lagu: Servaria yang Gwe bikin dengan software FL Studio:

URL Youtube = http://www.youtube.com/watch?v=6hMnY8lUeUo

Intro:
Biar nggak terlalu panjang, Gwe pecah tulisan ini jadi 3 bagian, yang Gwe sebut Fase. Fase 1: Jaman Sekolah & Kuliah; Fase 2: Saat Kerja di Jakarta; dan Fase 3: Saat Kerja di Semarang Sampai Sekarang. So, here it goes..

Fase 1: Jaman Sekolah & Kuliah

Apakah Gwe udah piawai maen musik?

Gwe sendiri ngerasa belom, dan kenyataannya emang gitu. Gwe masi dalam taraf belajar di bidang musik, khususnya dengan instrument keyboard dan musik digital. Jadi tulisan ini utamanya Gwe tulis untuk lebih menyemangati Gwe dalam belajar musik, sekaligus ngasih tau buat kalian seperti apa sih background musik Gwe.

Keluarga Gwe bukanlah keluarga pemain musik. Paling hanya penikmat aja. Bokap dan nyokap Gwe (sebelum akhirnya diminta mengundurkan diri karena kerja 1 kantor) adalah karyawan sebuah bank pemerintah. Mereka berdua sama-sama nggak bisa maen instrument apapun, nyanyi atau karaoke juga enggak. Jadi wajarlah bila waktu kecil Gwe sama sekali belum tertarik untuk maen musik. Aktivitas yang bersinggungan dengan musik di keluarga Gwe pas Gwe kecil paling cuman nonton Aneka Ria Safari atau acara video klip di TVRI tiap hari minggu. Tape player ada. Selaen buat denger berita, kadang juga dipake bokap buat dengerin wayang atau gamelan, terus kadang juga lagu Indonesia yang popular saat itu. Ya, jadi keluarga Gwe hanyalah penikmat musik biasa.

Saat SMP ada pelajaran seni musik di sekolah. Itu adalah pertama kalinya Gwe maen musik. Tapi yang namanya pelajaran sekolah nggak pernah Gwe anggep serius. Yang penting ikut pelajarannya, berusaha dapat nilai sebaik mungkin. Kalau udah nggak ada pelajarannya lagi, ya bisa Gwe lupain. Belum ada efek nyatanya buat di hidup. Emang jaman itu cetek banget konsep pendidikan di mind set Gwe. Tapi bagaimana pun itu adalah awal atau sejarah yang nggak bisa lepas dari diri Gwe. Pelajaran musik pertama di kelas dua di SMPN 2 Kendal. Yang Gwe inget, selaen teori nada, kita diajarin untuk bisa maen seruling dan pianika (kalo istilahnya ga salah, yang Gwe inget wujud benda itu semacam keyboard/piano yang ditiup). Maap nama gurunya Gwe lupa. Lanjut di kelas 3 masih ada pelajaran musik juga. Gurunya seorang wanita dengan wajah oriental, lumayan cakep, mungil, tapi Gwe lupa namanya. Muup yah bu. Selain teori musik, murid-murid juga diajarin maen gitar akustik. Gwe mulai agak tertarik untuk bisa, karena saat itu gwe mulai kena virus adek Gwe yang mulai suka sama musik pop. Ada sedikit ketertarikan di hati Gwe untuk bisa jadi artis, sampai Gwe minta beliin gitar ke bokap. Gwe inget banget alat musik beneran pertama yang Gwe punya adalah Gitar Nylon Yamaha C-330 yang dibeli di Gramedia Pandanaran, Semarang (selaen keyboard maenan murahan seukuran kotak makan yang tuts-nya belom staun juga udah jebol). Yup, sebelum beli Gwe belum ngeh kalau antara gitar dengan senar nylon dan senar string itu beda. Baik bahan, maupun hasil bunyinya. Gwe agak nyesel karena ternyata gitar yang dipakai di sekolah yang senarnya string. Selaen itu Gwe mulai ngerasa Gwe nggak bakat maen gitar. Neken chord aja sakit, jadinya cuman apal chord C, D, G, dan nggak pernah bisa bikin bunyi yang bagus untuk Chord F atau B. Itu juga chord yang Gwe tahu sampai sekarang, ditambah E dan Am. Dengan konsep yang cetek soal pendidikan, Gwe santai aja dengan berakhirnya pelajaran musik di kelas 3 SMP, dan gitar nylon Gwe cuman jadi pajangan, tapi Gwe nggak mau jual. Sayang, kan masih bisa Gwe genjreng asal-asalan kalo lagi bete.

Pas Gwe sekolah di  SMUN 1 Kendal, nggak ada sama sekali pelajaran musik. Waktu itu Gwe nggak kepikiran untuk les musik. Walaupun sempet tertarik untuk ikutan ekskul band di sekolahan, tapi Gwe nggak lakuin itu. Gwe cuman tertarik tapi nggak berbuat apa-apa. Sempet juga liat temen-temen latian band di rumah salah satu temen yang punya studio pribadi, namanya Aul. Sayangnya sekarang Aul nggak ngembangin bakat+kemampuan musiknya meskipun punya fasilitas. Katanya alat-alat musiknya udah dikasihin ke saudaranya.

Gwe mulai kepikiran belajar musik pas kuliah Universitas Negeri Semarang (Unnes). Untuk ngisi waktu aja, selaen hobi laen Gwe seperti bikin puisi atau belajar komputer & bidang teknologi informasi laennya. Waktu itu Gwe mikir kayaknya kurang bakat di gitar, tapi lumayan ada potensi di alat musik semacam keyboard. Sewaktu Gwe maen ke Sekolah Musik Purnomo, Semarang, kelas Keyboard lagi full murid. Jadi untuk ngobatin kekecewaan Gwe, Gwe ikutan kelas gitar Akustik. Guru gitar akustik Gwe namanya pak Amir. Gwe udah ngebayangin kita bakal langsung genjrang-genjreng kayak band di TV, tapi ternyata nggak. Belajar musik di sekolah musik itu ternyata dari basic. Kita mulai belajar dari hal kecil seperti petikan gitar. Gwe agak kurang sreg, tapi karena mungkin itu tahapan yang harus dilalui ya akhirnya Gwe jalananin.

Sayangnya Gwe nggak lama belajar gitar akustik. Karena ngerasa nggak bakat, dan jam kosong untuk kelas Keyboard udah ada, maka Gwe keluar dari les gitar, lalu ganti belajar Keyboard. Selaen itu karena Gwe pengin fokus salah satu instrument musik aja, dan juga karena duit yang terbatas. Guru keyboard Gwe namanya pak iik. Dia suka berpakaian rapi dan berkacamata. Kelas Gwe bukan privat, jadi ada beberapa murid dalam satu kelas. Masing-masing pegang keyboard satu. Purnomo makenya Keyboard merek Technic dari Jepang. Saban pertemuan, Pak iik ngajarin teori dan ngasih contoh, trus minta kita latian, untuk nantinya dimaenin. Waktu itu di rumah masih ada keyboard punya adek Gwe, kalo nggak salah Yamaha yang tipenya PSR-2100. Jadi Gwe bisa latihan di rumah juga. Tapi setelah keyboard itu dijual Gwe nggak bisa belajar lagi, paling Gwe latian di tempat les kalau abis jam Gwe masih kosong. Lambat laun, karena nggak ada keyboard Gwe ngerasa keteteran. Gwe juga mulai keteteran dengan tugas kuliah, kemudian akhirnya mutusin buat berhenti les keyboard. Buku basic/sempet abis, dan hasil ujian Gwe lumayan oke. Sebenernya udah masuk juga ke buku 1, sayang juga sih karna harus stop, tapi mau gimana lagi.

Selain belajar secara formal lewat kursus atau les di sekolah musik, Gwe juga belajar bagaimana menciptakan musik digital secara otodidak. Alhamdulillah Allah memberikan Gwe kemampuan untuk mudah mempelajari bidang komputer. Jadi pas jaman kuliah sewaktu masih seneng-senengnya utak-atik komputer dan segala macam software-nya Gwe mulai mengenal program untuk bikin musik digital. Jaman itu rental CD masih ada, jadi dengan biaya yang murah bisa menikmati berbagai program komputer. Kalau sekarang yang kayak gitu bisa di-razia polisi, tapi sebaliknya banyak software yang dengan mudah dapat didownload di internet. Baik yang gratis maupun bajakan yang ada crack/patch-nya.

Dulu ada beberapa tempat rental CD di Semarang, salah satunya Metro CD. Di Metro CD itu Gwe nemu beberapa macam software musik digital maupun recording/mixing seperti: e-Jay Musik, FruityLoops, Cakewalk, dsb. Yang paling praktis tentu saja e-Jay, karena isinya semacam loop atau potongan beat lagu. Tinggal disusun, gabung-gabungin jadi lagu yang enak. Tapi e-Jay ada kelemahannya juga, yaitu karena kita hanya menyusun lagu yang udah ada, jadi kita nggak bener-bener nyiptain musik baru. Hanya semacam maen tempel dan bikin urutan aja. Kita sama sekali nggak bisa ngubah nadanya. Sementara Cakewalk adalah semacam program komposisi lagu yang Gwe kurang begitu ngerti cara makainya.

Nah, apa yang Gwe idamkan ada di software FruityLoops, yang sekarang udah ganti nama jadi FL Studio, biar nggak berkesan gay maupun dituntut sama perusahaan apa gitu, Gwe lupa gara-gara masalah nama merek yang mirip. FruityLoops yang pertama kali Gwe kenal adalah FruityLoops 2. Sebuah program dengan sample sound sederhana, tapi kita bisa ngubah nadanya, turunin atau tinggiin. FruityLoops berkembang begitu pesat, hingga akhirnya kini menjadi Digital Audio Workstation, yang artinya kita bisa menciptakan sebuah lagu digital modern dengan software ini. Bahkan termasuk input vokal juga. Mengenai FruityLoops atau FL Studio akan Gwe bahas secara tersendiri di tulisan lain.

Petualangan Gwe dengan FruityLoops nggak berlangsung lama. Selain karena kesibukkan tugas kuliah, juga Gwe milih untuk fokus hobi bikin tulisan fiksi (cerpen/novel), puisi, maen computer, maen game, nonton rekaman video film, dan lain-lain. Maka Gwe pun memasuki masa istirahat yang panjang, baik dalam hal belajar istrumen konvensional maupun program musik digital.
Bersambung ke Fase ke-2….

Bonus:
Berikut adalah link download dari album musik digital pertama Gwe yang dibuat dengan FL Studio: yozar.remixer’s FLS B-AsyiK:

http://www.4shared.com/file/251894767/b7d4dead/yozarremixer_-_FLS_BasyiK.html

I Have new post everyone!
Hehe.. aduh, kayaknya makin susah aja bikin blog belakangan ini. Kemaren-kemaren kan ga sempet karena asyik bikin video blog, trus belajar musik, baik itu keyboard maupun vokal, trus juga karena kemalasan Gwe yang lebih suka nonton hasil donlotan video youtube, serial tv, atau pun film daripada nulis, hehe… Mau sih nulis, kalau itu tugas kantor, bikin berita (mau gak mau lha wong tugas) :p

Masi berkaitan dengan fokus Gwe sekarang di bidang musik, tapi belom bisa ninggalin hobi nonton, setelah Maret 2011 kemaren Gwe bikin postingan blog MUSICAL STORY [FILM & SERIES], Gwe mau update nih soal serial TV atau Film yang berkaitan dengan musik yang Gwe tonton. Baik yang udah kelar, maupun baru diicipin. Maksudnya sih biar Gwe lebih semangat dan terinspirasi dalam bermusik. Ini mungkin bisa menginspirasi kamu-kamu juga. Silakan dibaca, but it might contain spoilers buat yang belom nonton. Just check it out:

1. Dream High [2011]
“Dream High” adalah serial drama Korea Selatan atau K-Drama yang menceritakan soal anak-anak muda yang ingin menjadi idol atau artis kalo di Indonesia di sebutnya, dengan bersekolah di Sekolah Seni Kirin. Tokoh utamanya yang bernama Go Hye Mi (Suzy), diceritakan sebagai penyanyi muda berbakat di bidang nyanyi opera. Tadinya dia bermaksud bersekolah di sekolah seni Juliard yang khusus menangani musik klasik, tapi karena ada kejadian buruk, yaitu bapaknya kabur dikejar debt collector karena terbelit hutang, maka Hye Mi terpaksa menandatangi kontrak untuk menjadi idol dan bersekolah di Kirin. Di Sekolah Kirin Hye bertemu sejumlah teman ataupun rival, antara lain Jin Guk/Hyun Shi Hyuk (Taecyeon), Yoon Baek Hee (Eunjung), Song Sam Dong (Kim Soo-hyun), Kim Pil Sook (IU), dan Jason (Wooyoung). Di sekolah ini para anak muda ini tidak hanya berlatih nyanyi, tapi juga nge-dance, teamwork dan bagaimana membuat konsep & penampilan manggung yang oke. Di bawah bimbingan para guru, mereka berusaha untuk menjadi yang terbaik dan meraih debut di industri musik/entertainment Korea yang penuh persaingan. Simbol K banyak muncul di film ini. Mungkin maksudnya Korea, atau sekolah Kirin. Di Korea serial ini tayang di Korean Broadcasting System (KBS), dari 3 Januari 2011 s/d 28 Februari 2011 sebanyak 16 Episode. Di Indonesia Dream High pernah ditayangkan di stasiun televisi Indosiar pada Juli 2011. Buat kamu-kamu yang demen ama Boyband-Girlband, serial ini bisa jadi salah satu tontonan yang pas buat kamu.

2. BECK The Movie [2010]
BECK The Movie diangkat dari serial komik Jepang dengan judul yang sama, yaitu BECK karya Harold Sakuishi. Di Jepang, manga BECK diterbitkan oleh Kodansha, sedangkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo, yang awalnya dimasukkan di Shonen Magz lalu diterbitkan secara terpisah sebagai komik standalone.
Tokoh utama film yang disutradarai oleh Yukihiko Tsutsumi ini adalah Tanaka Yukio (Takeru Sato, juga bermain di Kamen Rider Den-O) atau lebih akrab dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan Koyuki merasa bosan dengan kehidupannya sebagai anak sekolah yang datar. Namun sejak menolong seekor anjing bernama Beck dari gangguan bule-bule pemabuk, dan bertemu pemiliknya yang bernama Ryusuke Minami (Hiro Mizushima, juga bermain dalam Kamen Rider Blade) , hidup Koyuki jadi lebih seru. Terutama karena Ryusuke membuatnya kenal dengan musik band dan meminjamkan gitar kepadanya.
Ryusuke sendiri pernah tinggal di New York dan berteman akrab dengan band terkenal “Dying Breed”. Sekembalinya ke Jepang, Ryusuke tetap ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi musisi yang sukses, dan mulai merekrut personil untuk bandnya yang diberi nama BECK. Ryusuke lalu mengajak Chiba (Kenta Kiritani) untuk bergabung sebagai vokalis rap (MC) dan Taira (Osamu Mukai) sebagai bassis. Kesalahpahaman sempat terjadi antara Ryusuke dan Koyuki karena gitar yang dipinjamkan Ryusuke rusak, yang sebenarnya dirusak oleh orang lain. Maho (Shiori Kutsuna), adik perempuan Ryusuke menengahi dan berhasil memecahkan kesalahpahaman antara mereka berdua. Bahkan Ryusuke mengajak Koyuki yang sudah belajar gitar dari pak Saito, pemilik usaha kertas yang mereparasi gitar Ryusuke, untuk menjadi personil BECK di posisi gitar rhythm dan 2nd vocal. Selain itu BECK juga diperkuat oleh Saku (Aoi Nakamura) sebagai drummer. Dengan formasi ini lah perjuangan BECK untuk menjadi band terkenal dimulai.

3. 8 Mile [2002]
Film Hollywood yang mengambil latar belakang dunia rap di Amerika, khususnya Detroit tahun 1995 ini dibintangi oleh Eminem yang berperan sebagai Jimmy Smith Jr atau yang lebih gaul dipanggil sebagai Bunny Rabbit. Masa itu adalah masa-masa dimana musik hip-hop menjadi suatu media untuk menyuarakan aspirasi, dan persaingan antar geng rap begitu ketat. Keadaan ini juga menginspirasi Rabbit, yang bekerja sebagai buruh kasar di pabrik pembuat bumper mobil untuk menjadi seorang rapper handal. Sebagai seorang kulit putih, upayanya untuk dapat diterima di komunitas hip-hop tidaklah mudah, meskipun dia sangat berbakat membuat lirik yang apik. Kehidupan pribadinya pun bermasalah, dimana Rabbit terpaksa masih harus tinggal bersama ibunya yang pemabuk, Stephanie (Kim Basinger) serta adik Rabbit, Lily (Chloe Greenfield), dan pacar ibunya yang kasar Greg Buehl (Michael Shannon). Kehidupan cinta rabbit pun tidak bisa dibilang lancar. Rabbit terpaksa meninggalkan pacarnya Jeneane (Taryn Manning) karena dikiranya hamil dan memberikan mobil untuknya, walaupun ternyata terbukti tidak. Pacar baru Rabbit yang dikenalnya di pabrik, yaitu Alex (Brittany Murphy) kemudian selingkuh dengan Wink (Eugene Byrd). Namun begitu, Rabbit beruntung memiliki teman-teman dekat dari kalangan kulit hitam maupun kulit putih yang selalu mendukungnya.

4. Suck Seed [2011]
Setelah “The Litte Commedian”, inilah film Thailand kedua yang Gwe tonton. Sama-sama memasukkan unsur komedi, komedi khas Thailand yang kadang Gwe rasa garing ato malah aneh, tapi tetap bisa dinikmati. Ya, Gwe emang jarang nonton pelem Thailand, selaen karena emang jarang yang Gwe tahu, juga karena isu Ladyboy di negeri itu yang bikin males. Gwe ogah liat ada artis cantik, eh ternyata batangan. Gwe ga sengaja donlot film yang disutradarai Chayanop Boonprakob ini karena tau-tau ada gitu di website yang biasa nyediain film donlotan, dan setelah Gwe tonton, eh asyik juga.
Hampir sama kayak BECK, Suck Seed mengambil tokoh utama anak sekolah. Bedanya kalau di BECK ada yang nggak sekolah, seperti Chiba, Taira & Ryusuke, kalau di sini karakternya masih sekolah semua.
Cerita berpusat pada tiga cowok SMA yang suka nge-band: Ped (Jirayu La-ongmanee), Koong (Patchara Jirathiwat), Ex (Thawat Pornrattanaprasert), dan seorang cewek: Ern (Nattasha Nauljam).
Adalah Koong yang punya saudara Kay yang sangat populer di kalangan cewek SMA karena kemahirannya main gitar dan ngeband. Iri karena hal itu Koong ngajak Ped, sahabat sejak kecilnya dan Ex untuk bikin band rock. Tujuan utama Koong tentunya biar bisa narik perhatian para cewek, namun pada kenyataannya skill para personil band ini masih ecek-ecek. Kemunculan siswi pindahan dari Bangkok yang gape maen gitar, yaitu Ern membawa angin segar. Koong mengajak Ern untuk menjadil personil band-nya, selain karena kemampuan musik gadis itu juga karena cowok itu naksir padanya. Padahal sebenarnya Ern adalah cinta pertama Ped waktu masih kecil. Ada kisah romansa antara keduanya yang terpaksa terputus karena Ern harus pindah kota, dan kini rasa itu pun hadir kembali.  Dinamika kisah cinta dan perjuangan untuk menjadi band yang diterima orang menjadi inti film ini.

5. Detroit Metal City/DMC [2008]
Harusnya bahasan film ini masuk ke postingan sebelumnya karena Gwe nontonnya tahun 2010 lalu, tapi karena lupa ya udah Gwe bahas di sini aja.
Detroit Metal City atau lebih enak disingkat DMC adalah film layar lebar live action dari Jepang yang diangkat dari manga karya Kiminori Wakasugi dengan judul yang sama. Sebelumnya, manga bergenre musical comedy  ini udah dibikin versi animenya dulu, yang tayang dari 8 Agustus 2008 sebanyak 12 episode. Versi filmnya dirilis pada 23 Agustus dan disutradarai oleh Toshio Lee.
DMC menceritakan tentang Soichi Negishi (Ken’ichi Matsuyama, juga pemeran L dalam Death Note), seorang cowo daerah pemalu yang pindah ke kota besar Tokyo demi mengejar impiannya menjadi musisi pop. Namun karena kebutuhan duit, nasib berkata lain, dia memang sukses menjadi musisi, tapi genre musik yang dibawakannya sangat jauh dari cita-citanya, yaitu death metal. Dan bahkan Negishi menjadi vokalis utama sekaligus gitaris band yang bernama Detroit Metal City (DMC), dengan penampilan ala raja setan Johannes Krauser II. Film ini berpusat pada kehidupan Negishi yang mau nggak mau ngejalanin dua sisi kehidupannya yang beda dan nemuin makna mimpi sebenarnya. Bumbu kisah cinta antara Negishi dengan Yuri Aikawa (Rosa Kato) membuat film ini makin menarik. Versi film tidak se-vulgar manga maupun anime-nya. Satsugai !!! Satsugai !!!

6. Heart String [2010]
Ini adalah serial drama Korea lain yang memasukkan unsur musik. Cerita berpusat pada tokoh Lee Kyu Won (Park Shin Hye), seorang mahasiswi jurusan musik tradisional yang memiliki kakek yang fanatik dengan musik tradisional Korea & membenci musik modern. Pertemuan Kyu Won dengan Lee shin (Jung Yong Hwa) yang merupakan vokalis sekaligus gitaris band “The Stupid” merupakan pemicu dari cerita cinta dalam serial ini. Hubungan keduanya tidak bisa dibilang mulus, malah sebaliknya, awalnya terjadi ketidakcocokan. Termasuk jenis musik yang masing-masing usung, yaitu tradisional versus modern. Gwe sendiri belum nonton sampai kelar, baru sebagian dari episode 1 (satu).

7. Marry Stay Out All Night [2010]
Drama Korea yang juga dikenal dengan judul “Mary Is Out At Night” ini memang memasukkan unsur musik, namun tidak begitu kental. Fokus lebih ke cerita drama hubungan antar manusianya. Serial yang diangkat dari manhwa atau komik Korea buatan Won Su-Yeon ini menceritakan tentang seorang cewek bernama Wi Ma Rie / Mary (Moon Geun-Young) yang harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal karena bokapnya punya banyak utang. Sampai-sampai Debt collector menyita semua barang di apartemen Ma Rie karena bokapnya bisa membayar pinjaman duit. Suatu Hari, secara nggak sengaja Mary nabrak seorang musisi band indie, Kang Moo Kyul (Jang Geun-Suk) dan merasa bersalah karena itu. Sementara itu bokap Ma Rie secara nggak sengaja ketemu sahabat akrab lamanya yang selama ini tinggal di Jepang dan kini telah menjadi sukses dan kaya. Ada cerita masa lalu antara mereka berdua, sehingga keduanya ingin menikahkan anak masing-masing, yaitu Ma Rie dengan Byun Jung In (Kim Jae Wook ). Ma Rie nggak terima dengan hal itu dan pura-pura udah nikah sama Moo Kyul. Bokap Ma Rie jadi kaget dan mengira putrinya benar-benar nikah. Padahal Ma rie dan Jung In harus segera tunangan. Akhirnya bokap Ma Rie bikin kesepakatan 100 hari, yang isinya Ma Rie bisa tetep berhubungan ama Mo Kyul, tapi juga nyoba ngejalin hubungan ama Jung In, cowok yang dijodohkan dengannya. Jung In juga setuju ama kesepakatan ini. Karena perlahan-lahan Jung In inget masa kanak-kanaknya bersama Ma Rie & mulai suka sama cewek itu. Cerita jadi makin rumit saat muncul Seo Jun (Kim Hyo-Jin), mantan pacar Mu Gyul & juga aktris utama drama yang sedang diproduksi Jung In, dimana keempat orang ini harus ada di tempat yang sama. Mirip kayak Heart String, serial ini juga belum kelar Gwe tontong, baru beberapa episode awal aja.

8. Kamisama, Mou Sukoshi Dake [1998]
Dorama dari negeri sakura Jepang ini juga dikenal dengan judul God Please Give Me More Time. Mirip dengan Marry Stay Out All Night, serial ini juga memasukkan unsur musik sebagai bumbu saja, bukan fokus utama cerita.
Demi bisa menonton konser produser musik Ishikawa Keigo (Kaneshiro Takashi), seorang gadis ABG Kano Masaki (Kyoko Fukada) rela menjual tubuhnya agar bisa membeli tiket konser idolanya itu. Maksud Misaki akhirnya tercapai, dan bahkan dia bisa bertemu Keigo dan tidur bersama. Hubungan keduanya pun menjadi dekat. Namun sayangnya saat Misaki mengalami kecelakaan, dia harus mengetahui kenyataan terjangkit virus HIV/AIDS. Setelah dirunut akhirnya diketahui bahwa Misaki tertular dari pria, yang membayarnya untuk tidur bersama. Perjuangan Misaki untuk tetap hidup dan menjaga cintanya menjadi fokus cerita ini. Gwe nontonnya waktu tayang di Indosiar jaman dulu, jadi detil cerita-nya uda agak lupa.

Hmm.. ternyata daftarnya jadi lebih banyak yak. Sebenernya masih ada serial/film yang berkaitan ama musik laennya, tapi mungkin belom Gwe tonton. Tapi mudah-mudahan yang sedikit ini bisa jadi inspirasi, tak hanya buat Gwe, tapi pencinta musik dan para pemimpi yang laen.

Karena Video Blog #02 nggak ada kaitannya ama musik, jadi Gwe langsung posting VLog #03. Di Video Blog Edisi ini, yozar remixer menyanyikan sebuah lagu gokil yang berjudul “Havn’t Luv U, Nyet!”. Lagu ini diciptakan yozar bersama Welly tahun 2010, terinspirasi dari lagu Michael Buble dan almarhum Chrisye. Kali ini yozar bernyanyi diiringi musik yang diaransemen oleh Alex Aditya. Memang ini bukan versi full lirik-nya tapi silakan Anda nikmati:


URL Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=xFPQdN4wPHs

Episode #01 dari Video Blog yozar.remixer. Dalam edisi perdana ini yozar berada di kemeriahan puncak acara ulang tahun emas (ke-50) SMA Negeri 1 Kendal yang dihadiri oleh grup Band Vierra. Silakan tonton kemeriahan tersebut di sini:


URL Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=DKgn-n9jHOw

Setelah tempo hari saya bikin video klip untuk lagu Dunak yang ada di album lagu yozar.remixer: 2nd BAsyik, saya bikin video clip lagi untuk lagu: Servaria, dari album yang sama. Lagunya versi original jadi, durasinya lumayan pendek. Sebagai ilustrasinya, saya ambil suasana desa Gebang, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Silakan nikmati video clip lagu “Servaria” di sini:

URL Youtube = http://www.youtube.com/watch?v=6hMnY8lUeUo

Setelah tempo hari ngerilis album: 2nd BAsyik, saya bikin video klip untuk lagu Dunak yang ada di album itu, tapi durasinya agak dipanjangin dikit. Sebagai ilustrasinya, Gwe masukkin video kesenian: Jaran Eblek dan Barongan. Video disyuting di Desa Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Indonesia pada Juni 2011.
Untuk diketahui, kesenian ini dibawakan hampir setiap hari Minggu. Selain Jaran Eblek dan Barongan, biasanya juga ada Dawangan. Tapi saya belom sempat ambil gambarnya. Kesenian ini dibawakan dari jam 9 pagi sampai 12 siang. Setelah istirahat sekitar 1,5 jam, dilanjutkan lagi dari jam setengah 2 siang sampai kira-kira jam 4 sore. Silakan nikmati video clip lagu “Dunak” di sini:

URL Youtube = “http://www.youtube.com/watch?v=kuamdhN9_Hw”

Setelah beberapa tahun vakum, di tahun 2011 ini yozar.remixer kembali menelurkan sebuah album musik digital. Dalam pengerjaannya, yozar menggunakan FL Studio 10. Meskipun sample instrumen yang digunakan sederhana, yozar berharap para pendengar tetap dapat menikmati lagu. Total ada 6 (enam) track dalam album yang dirilis pada 2011-06-19 ini. Judul-judulnya adalah:

1. Servaria
2. Miria Rossa
3. Sumpah Pemuda Revolusi
4. Dunak
5. Renda
6. Spin
Silakan download album tersebut di sini:

http://www.4shared.com/file/NhZQkI4y/yozarremixer_-_2nd_BAsyik.html
http://www.mediafire.com/?i26i0o26lzds361

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.